<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> 
  <rss version="2.0"><channel> 
				<title>RSS perwirasatu</title> 
				<description>Berita Harian  Nasional dan Internasional | hubungi kami di : 082123759655 - redaksi@perwirasatu.id</description>
				<link>https://perwirasatu.co.id/</link> 
				<language>id-id</language><item>
						                <title>Di Tengah Gema Takbir Desa Kemukus, Bupati Egi Ajak Warga Rawat Hakikat Kurban Melalui Aksi Bersih Lingkungan</title>
						                <link>https://perwirasatu.co.id/berita/detail/di-tengah-gema-takbir-desa-kemukus-bupati-egi-ajak-warga-rawat-hakikat-kurban-melalui-aksi-bersih-lingkungan</link>
						                <description>Perwirasatu.co.id, Lampung Selatan -  Lantunan gema takbir yang khidmat berkumandang syahdu dari pengeras suara Masjid Al-Hijroh, Desa Kemukus, Kecamatan Ketapang, pada Rabu pagi (27/5/2026). Ribuan jemaah tampak menyemut, memadati area dalam hingga meluber ke halaman luar masjid. Suasana hari raya begitu kental dan hangat, menyusul keputusan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan menunjuk desa ini sebagai pusat pelaksanaan ibadah Salat Iduladha 1447 Hijriah tingkat kabupaten.Hadir di tengah-tengah saf jemaah, Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama beserta segenap jajaran pimpinan daerah, mulai dari Sekretaris Daerah, staf ahli, asisten, Sekretaris DPRD, inspektur, hingga para kepala dinas dan badan. Kehadiran para pemangku kebijakan ini melebur natural tanpa sekat protokoler ketat bersama warga setempat.Ibadah tahun ini sekaligus mengukuhkan sinergi tripartit yang solid antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat luas. Berdasarkan laporan resmi Panitia Salat Iduladha dan Panitia Kurban Pemkab, tahun ini berhasil dihimpun sebanyak 36 ekor sapi kurban. Hewan-hewan tersebut berasal dari kedermawanan pribadi Bupati Radityo Egi Pratama, partisipasi para pejabat Pemkab Lampung Selatan, serta kontribusi nyata pelaku usaha swasta yang bergerak di wilayah Lampung Selatan.Untuk memastikan prinsip higienitas dan keadilan sosial, panitia membagi skema distribusi menjadi dua jalur utama. Sebanyak 11 ekor sapi diserahkan ke Masjid Agung Kalianda untuk dipotong secara higienis di Rumah Potong Hewan (RPH) Kecamatan Sidomulyo. Sementara itu, 25 ekor sapi sisanya didistribusikan secara merata ke berbagai instansi vertikal, pondok pesantren, serta elemen masyarakat rentan di berbagai wilayah kabupaten agar manfaatnya meluas.Di balik ritual ibadah tersebut, Bupati Radityo Egi Pratama menyisipkan pesan sosial-ekologis yang kuat sebelum salat berjemaah dimulai. Ia mengingatkan bahwa esensi Iduladha tidak boleh berhenti pada seremoni penyembelihan dan pembagian daging semata, melainkan harus menyentuh tanggung jawab kebersihan lingkungan pasca-acara.Bupati Egi secara khusus menyoroti kebiasaan lama yang kerap menjadi persoalan musiman setiap kali Iduladha tiba, yakni masalah sampah plastik pembungkus dan limbah kurban yang berserakan."Biasanya sampahnya berserakan setelah pemotongan. Saya berharap betul, kita sama-sama menjaga kebersihan lingkungan," ujar Bupati Radityo Egi Pratama dengan nada persuasif di hadapan ribuan jemaah.Langkah preventif ini, lanjut Bupati, selaras dengan ruh program lingkungan hidup yang tengah digencarkan oleh Pemkab Lampung Selatan, yaitu gerakan HELAU (Hijau, Elok, Lestari, Aman). Ia mengimbau agar sisa limbah kurban segera dibersihkan secara sigap dan higienis, sehingga nilai-nilai suci dari hari raya tidak tercederai oleh tumpukan sampah. (Puddin A)</description>
					                </item><item>
						                <title>Ratusan Warga Khidmat Salat Iduladha di Masjid Agung Kalianda, Pemkab Lampung Selatan Distribusikan 36 Sapi Kurban Hingga ke Pelosok</title>
						                <link>https://perwirasatu.co.id/berita/detail/ratusan-warga-khidmat-salat-iduladha-di-masjid-agung-kalianda-pemkab-lampung-selatan-distribusikan-36-sapi-kurban-hingga-ke-pelosok</link>
						                <description>Perwirasatu.co.id, Lampung Selatan -  Ratusan warga Kecamatan Kalianda dan sekitarnya memadati Masjid Agung Kalianda untuk melaksanakan Salat Iduladha 1447 Hijriah dengan khidmat pada Kamis (27/5/2026). Di balik kekhusyukan ibadah tersebut, momentum hari raya kurban tahun ini kian terasa bermakna setelah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan berhasil menghimpun 36 ekor sapi kurban yang didistribusikan secara merata hingga ke pelosok desa.Pelaksanaan ibadah tahunan ini dihadiri langsung oleh Camat Kalianda, Ruris Apdani, beserta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) dan tokoh masyarakat setempat. Dalam pelaksanaannya, Ustaz Khairul Ulum Al Hafiz bertindak sebagai khatib, Ustaz Fuad Salim sebagai imam, dan Ustaz Febri Robiansyah sebagai bilal.Membacakan sambutan tertulis Bupati Lampung Selatan, Camat Kalianda Ruris Apdani mengungkapkan rasa syukur atas tingginya kepedulian sosial yang ditunjukkan lewat puluhan hewan kurban yang terkumpul pada tahun ini."Pada momentum Iduladha tahun ini, Pemkab Lampung Selatan bersama masyarakat melaksanakan penyembelihan hewan kurban sebanyak 36 ekor sapi,” ujar Ruris.Ruris menyebut, Sapi-sapi tersebut berasal dari partisipasi pemerintah daerah, para pejabat pemerintah, pihak swasta, serta para shohibul kurban di Kabupaten Lampung Selatan.Untuk memastikan pembagian yang adil dan menjangkau wilayah pelosok, Pemkab Lampung Selatan menerapkan strategi distribusi yang terstruktur. Ruris menjelaskan, dari total 36 ekor sapi tersebut, sebanyak 11 ekor sapi disembelih khusus untuk jemaah Masjid Agung Lampung Selatan. Proses penyembelihannya dilakukan melalui Rumah Potong Hewan (RPH) milik pemerintah daerah di Kecamatan Sidomulyo guna menjaga higienitas daging."Sedangkan 25 ekor lainnya didistribusikan ke berbagai kecamatan, instansi vertikal, pondok pesantren, dan elemen masyarakat lainnya di wilayah Kabupaten Lampung Selatan," tambah Ruris.Selain menekankan pentingnya pemerataan distribusi daging kurban, pemerintah daerah juga memberikan perhatian serius terhadap isu lingkungan pasca-penyembelihan. Ruris mengajak seluruh panitia kurban dan warga untuk bahu-membahu menjaga kebersihan area tempat ibadah serta lingkungan pemukiman."Pastikan limbah dan kotoran hewan kurban dikelola dengan baik serta tidak dibuang ke sungai maupun saluran air, agar tidak menimbulkan pencemaran dan penyumbatan aliran air di lingkungan masyarakat," kata Ruris tegas. (Puddin A)</description>
					                </item><item>
						                <title>Polres OKU Salurkan 10 Ekor Sapi Kurban, Amanah Kapolda Sumsel Dibagikan hingga Desa Binaan</title>
						                <link>https://perwirasatu.co.id/berita/detail/polres-oku-salurkan-10-ekor-sapi-kurban-amanah-kapolda-sumsel-dibagikan-hingga-desa-binaan</link>
						                <description>Perwirasatu.co.id, OKU - Momentum Hari Raya Idul Adha 1447/H 2026/M Kepolisian Resor (Polres) OKU untuk berbagi kepedulian kepada masyarakat. Sebanyak 10 ekor sapi kurban disembelih dan dagingnya disalurkan kepada warga, wartawan, purnawirawan Polri, pondok pesantren, hingga yayasan anak yatim piatu di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Rabu (27/5/2026).Kegiatan kurban tersebut merupakan bagian dari amanah dan kepedulian sosial jajaran kepolisian, termasuk dukungan dari Kapolda Sumatera Selatan, yang terus mendorong Polri hadir lebih dekat dengan masyarakat.Kepala kepolisian Resor (Kapolres) OKU AKBP Endro Aribowo, S. I. K., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan kurban tahun ini serta mengapresiasi seluruh personel dan pihak yang ikut berpartisipasi.“Daging kurban dibagikan untuk teman-teman media. Tolong juga titipkan kepada rekan-rekan yang tidak hadir agar tetap bisa menikmati kegiatan dari Polres,” ucap Kapolres OKU.Tak hanya dibagikan di lingkungan Mapolres, pendistribusian daging kurban juga dilakukan secara langsung ke desa dan kelurahan binaan melalui para Bhabinkamtibmas dari Polsek Baturaja Timur dan Polsek Baturaja Barat.Kapolres menjelaskan, para personel Bhabinkamtibmas diterjunkan untuk memastikan daging kurban dapat diterima masyarakat yang membutuhkan hingga ke wilayah binaan masing - masing.“Para Bhabinkamtibmas nanti akan mengantarkan langsung ke masyarakat di desa dan kelurahan binaan. Ini bagian dari upaya Polri untuk terus hadir dan berbagi dengan masyarakat,” terang Kapolres OKU.Selain masyarakat umum, penerima daging kurban juga berasal dari kalangan purnawirawan Polri, insan pers, pondok pesantren, serta yayasan anak yatim piatu yang tersebar di wilayah Kabupaten OKU.Suasana penuh kebersamaan tampak dalam kegiatan tersebut. Setelah proses penyembelihan dan pembagian selesai, seluruh peserta turut menikmati makan siang bersama sebagai bentuk mempererat silaturahmi antara jajaran kepolisian dan masyarakat.Kapolres berharap kegiatan kurban yang dilaksanakan keluarga besar Polres OKU dapat membawa keberkahan bagi seluruh anggota maupun masyarakat penerima manfaat.“Mudah-mudahan apa yang kita lakukan diberikan keberkahan, pahala berlipat ganda, dan kita semua selalu diberikan kesehatan,” tutupnya.Kegiatan sosial ini menjadi wujud nyata kepedulian Polres OKU terhadap masyarakat sekaligus memperkuat hubungan harmonis antara Polri dan warga pada momen penuh makna Hari Raya Idul Adha. (Marshal)</description>
					                </item><item>
						                <title>Harga Berbeda Dalam Asap Kurban</title>
						                <link>https://perwirasatu.co.id/berita/detail/harga-berbeda-dalam-asap-kurban</link>
						                <description>Perwirasatu.co.id, Kamis 27 Mei 2026.Setiap Iduladha datang, halaman rumah, gang kecil, hingga dapur-dapur sederhana berubah menjadi ruang perjumpaan. Aroma sate mengepul dari bara arang, suara ulekan bumbu bersahutan dengan tawa warga, dan di sudut-sudut kota muncul berbagai penawaran jasa masak daging kurban dengan harga yang berbeda-beda. Dari enam puluh ribu rupiah per kilogram hingga ratusan ribu, semuanya menghadirkan cerita tentang kebutuhan, penghidupan, dan perubahan cara masyarakat memaknai hari raya.Di sebuah unggahan sederhana berlatar abu kebiruan, tertulis kalimat singkat yang terasa begitu biasa namun menyimpan banyak makna. “Pondok Makan Sate Kambing Lani melayani jasa masak daging. 60rb/kg. Lok. Ambarawa.” Tidak ada desain mewah, tidak ada foto sate yang menggoda, bahkan tidak ada nomor telepon besar yang berkedip-kedip seperti iklan digital masa kini. Hanya tulisan putih polos, namun justru dari kesederhanaan itu tampak sebuah kenyataan tentang bagaimana Iduladha telah melahirkan ekonomi musiman yang hidup dari kebutuhan masyarakat.Beberapa tahun lalu, memasak daging kurban hampir selalu dilakukan sendiri. Sejak pagi selepas salat Id, para ibu sibuk mengiris bawang, para bapak meniup bara arang, sementara anak-anak mondar-mandir membawa tusukan sate. Aroma bumbu kacang menjadi penanda rumah-rumah yang sedang berpesta sederhana. Tidak ada istilah jasa masak kiloan. Semua dikerjakan bersama-sama sebagai bagian dari kebersamaan yang melekat pada tradisi.Namun waktu mengubah banyak hal.Kota-kota tumbuh semakin cepat. Orang-orang bekerja lebih panjang, pulang lebih malam, dan semakin sedikit memiliki waktu untuk mengolah daging kurban sendiri. Sebagian tidak lagi percaya diri memasak gulai atau tongseng dalam jumlah besar. Sebagian lain tinggal di perumahan sempit yang bahkan tak memungkinkan menyalakan arang. Maka muncullah jasa-jasa masak dadakan yang menawarkan solusi praktis.Menariknya, setiap daerah memiliki harga dan cara promosi yang berbeda.Di Ambarawa, ada yang menawarkan jasa masak enam puluh ribu rupiah per kilogram. Di tempat lain, sebuah catering memasang tarif seratus dua puluh lima ribu rupiah per kilogram dengan janji rendang premium, bakso, hingga printilan daging. Ada yang memberi bonus sambal dan acar. Ada yang menawarkan sistem antar jemput daging. Bahkan beberapa membuka layanan masak di tempat untuk acara keluarga besar atau panitia masjid.Perbedaan harga itu sering menjadi bahan obrolan warga.“Lho, kok di sini mahal banget?” tanya seseorang di grup WhatsApp keluarga.“Kalau yang murah biasanya belum termasuk bumbu,” jawab yang lain.“Ada yang bisa jadi bakso sekalian, lebih praktis,” sahut anggota grup berikutnya.Percakapan-percakapan kecil semacam itu sebenarnya bukan sekadar soal harga. Ia menggambarkan perubahan gaya hidup masyarakat. Dulu orang rela menghabiskan satu hari penuh untuk memasak bersama. Kini banyak yang lebih memilih membayar agar bisa langsung menikmati hasil jadi sambil melanjutkan silaturahmi.Di balik jasa masak itu, ada pula kisah orang-orang yang menggantungkan harapan pada momen Iduladha.Warung sate kecil yang biasanya sepi mendadak ramai pesanan. Tukang giling bakso menerima antrean sejak pagi. Penjual santan dan bumbu pasar kebanjiran pembeli. Bahkan pemilik katering rumahan bisa mendapat pemasukan berkali lipat dibanding hari biasa. Hari raya bukan hanya tentang pembagian daging, melainkan juga perputaran rezeki bagi banyak orang kecil.Lani, pemilik pondok makan sate di Ambarawa itu, mungkin hanya memasang tulisan sederhana karena tak punya biaya membuat iklan profesional. Tetapi dari enam puluh ribu rupiah per kilogram itulah mungkin ia membayar kebutuhan sekolah anak, membeli gas tambahan, atau menutup biaya dapur yang terus naik. Di balik angka yang tampak kecil, ada tenaga, waktu, dan pengalaman yang ikut diperjualbelikan.Memasak daging kurban ternyata bukan pekerjaan ringan.Daging kambing harus diolah hati-hati agar tidak bau prengus. Daging sapi perlu direbus lama supaya empuk. Belum lagi mengatur bumbu dalam jumlah besar agar rasanya tetap seimbang. Orang yang terbiasa memasak untuk keluarga kecil tentu akan kewalahan ketika harus mengolah lima atau sepuluh kilogram daging sekaligus.Karena itu jasa masak hadir sebagai jawaban atas kebutuhan zaman.Meski demikian, ada sebagian orang yang merasa ada sesuatu yang perlahan hilang. Ketika semua bisa dipesan dan dibayar, tradisi memasak bersama mulai berkurang. Anak-anak tak lagi melihat ayahnya membakar sate di halaman. Tetangga tak lagi saling meminjam cobek atau panci besar. Dapur yang dulu penuh cerita berubah menjadi ruang singgah sebentar sebelum makanan datang dalam kemasan rapi.Modernitas memang memberi kemudahan, tetapi sering diam-diam mengambil kehangatan kecil yang dulu terasa biasa.Di banyak kampung, memasak daging kurban sebenarnya lebih dari sekadar urusan makanan. Ia adalah alasan untuk berkumpul. Orang-orang yang jarang bertemu bisa duduk bersama sambil menunggu sate matang. Para ibu bertukar resep gulai sambil tertawa. Anak-anak berebut bagian hati atau kikil. Bahkan asap pembakaran sate yang menyesakkan mata sering justru menjadi bagian paling dirindukan ketika semua kenangan itu berlalu.Kini, sebagian suasana itu digantikan oleh pesan singkat.“Mas, rendang dua kilo ya.”“Siap, nanti sore diantar.”Praktis, cepat, dan efisien.Tetapi kehidupan memang selalu bergerak ke arah yang sulit ditolak.Jasa masak daging kurban akhirnya menjadi cermin kecil tentang masyarakat hari ini. Ada kebutuhan akan kepraktisan, ada peluang ekonomi, ada kreativitas bertahan hidup, sekaligus ada tradisi yang perlahan berubah bentuk. Semua bercampur seperti bumbu gulai yang mendidih dalam panci besar.Perbedaan harga antar daerah pun sebenarnya wajar. Biaya bumbu berbeda, ongkos tenaga berbeda, juga kemampuan pasar yang tidak sama. Di kota besar, orang rela membayar mahal demi kenyamanan. Di kota kecil, harga murah justru menjadi daya tarik utama agar pelanggan datang. Tidak ada yang benar atau salah. Semua berjalan mengikuti ritme kehidupan masing-masing.Yang menarik, hampir semua penawaran jasa masak itu memakai bahasa yang akrab dan dekat dengan masyarakat. Tidak kaku seperti iklan perusahaan besar. Ada emoji tangan hati, ada kata “mantap”, ada janji “slot terbatas”, ada pula kalimat “biar nggak ribet di dapur.” Bahasa sederhana itu membuat promosi terasa lebih manusiawi, seolah bukan sekadar transaksi, melainkan ajakan saling membantu saat hari raya.Mungkin itulah yang membuat usaha-usaha kecil semacam ini tetap bertahan.Di tengah aplikasi makanan modern dan promosi digital besar-besaran, orang masih percaya pada warung sate pinggir jalan, katering rumahan, dan jasa masak yang diumumkan lewat status WhatsApp. Ada rasa percaya yang tumbuh karena kedekatan sosial. Pembeli tahu siapa yang memasak. Penjual mengenal siapa yang memesan.Dan ketika malam Iduladha tiba, asap sate kembali naik ke langit kampung-kampung kecil. Sebagian berasal dari dapur rumah sendiri, sebagian lagi dari jasa masak yang bekerja tanpa henti sejak pagi. Semua aroma itu akhirnya menyatu menjadi satu hal yang sama: rasa syukur.Sebab pada akhirnya, Iduladha bukan hanya tentang daging yang dibagikan atau makanan yang dihidangkan. Ia adalah cerita tentang manusia-manusia yang saling menghidupi. Tentang mereka yang berbagi kurban, mereka yang mengolahnya, dan mereka yang menemukan rezeki dari kepulan asap yang hanya datang setahun sekali.Sumber: Dwi Taufan Hidayat</description>
					                </item><item>
						                <title>Iduladha 1447 H, Bupati Garut Ajak Masyarakat Jadikan Kurban Momentum Tingkatkan Kepedulian</title>
						                <link>https://perwirasatu.co.id/berita/detail/iduladha-1447-h-bupati-garut-ajak-masyarakat-jadikan-kurban-momentum-tingkatkan-kepedulian</link>
						                <description>Perwirasatu.co.id, Garut – Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, melasanakan rangkaian ibadah salat Iduladha 1447 Hijriah bersama rdengan masyarakat di Lapangan Otto Iskandar Di Nata (Alun-Alun Garut), Kecamatan Garut Kota, Rabu (27/5/2026).Pelaksanaan salat Iduladha tahun ini dipimpin oleh KH. Muhammad Shufina sebagai imam, dan menghadirkan KH. Ena Sumpena, Ketua Penasihat PD Persis Garut, sebagai khatib.Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin menekankan bahwa kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS merupakan teladan mengenai pentingnya pengorbanan demi kemaslahatan umat dan ridha Allah SWT. Ia mengajak masyarakat untuk menghadirkan semangat tersebut dalam kehidupan bermasyarakat dan pembangunan Kabupaten Garut."Membangun Garut tidak hanya cukup dengan program dan anggaran tetapi membutuhkan kepekaan sosial, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama," katanya.Pada kesempatan tersebut, Bupati Garut juga menyinggung mengenai pelaksanaan ibadah haji tahun 2026. Pemerintah Kabupaten Garut telah melepas keberangkatan 174 jemaah haji yang tergabung dalam kloter 22 Kertajati. Ia mengakui adanya penurunan signifikan jumlah jemaah haji tahun ini dibanding tahun sebelumnya, yang dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah pusat demi keadilan bagi seluruh umat Islam di Indonesia."Meksipun demikian, kita tetap bersyukur dan tetap berdoa semoga seluruh jemaah asal Garut diberikan kesehatan, kekuatan, kelancaran, dan keselamatan dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji serta kembali ke Garut menjadi haji dan hajah yang mabrur dan mabruroh," lanjutnya.Sementara itu, dalam khutbahnya, KH. Ena Sumpena menyampaikan pentingnya memanfaatkan sisa usia untuk meningkatkan amal saleh dan bertaubat kepada Allah SWT. Mengangkat tema "Hakikat Ibadah Kurban dan Maqashidus Syariah", ia menjelaskan bahwa ibadah kurban merupakan bentuk pengabdian untuk menjaga agama (hifz ad-din).Khatib juga mengingatkan bahwa bagi umat Islam yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji, ibadah kurban menjadi salah satu amal saleh terbaik di hari raya Iduladha sebagai wujud rasa syukur dan peningkatan ketakwaan."Apabila tidak kita sempat untuk melaksanakan ibadah haji, maka amal soleh yang kedua adalah ibadah kurban, apabila ibadah kurban tidak juga mampu paling tidak saum Arafah pada tanggal 9. Saum Arafah pun tidak bisa maka kita pada hari ini berkumpul di lapangan Alun-alun Kabupaten Garut ini adalah sebagai wujud rasa syukur kita dengan meningkatkan kesalehan kita kepada Allah," ungkapnya.‎Penulis : Nindi Nurdiyanti ‎Penyunting : Ihsan Tadris Syifa ‎Press Release_ ini juga bisa diakses melalui laman Pemerintah Kabupaten Garut : https://www.garutkab.go.id</description>
					                </item><item>
						                <title>Kepala Desa Bergas Kidul Berkurban Massal</title>
						                <link>https://perwirasatu.co.id/berita/detail/kepala-desa-bergas-kidul-berkurban-massal</link>
						                <description>Perwirasatu.co.id, Semarang — Kepala Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Heri Nugroho, menunaikan kurban 11 ekor sapi pada momentum Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026). Hewan kurban tersebut disalurkan di berbagai wilayah desa dan diatasnamakan untuk keluarga besar, leluhur, besan, serta para kepala desa dan perangkat desa yang telah wafat sebagai bentuk penghormatan, bakti keluarga, dan penghargaan atas pengabdian membangun desa selama hidup mereka.Momentum Iduladha tahun ini di Desa Bergas Kidul menghadirkan suasana berbeda. Di tengah tradisi penyembelihan hewan kurban yang berlangsung di sejumlah titik, perhatian masyarakat tertuju pada langkah Kepala Desa Bergas Kidul, Heri Nugroho, yang menyerahkan 11 ekor sapi kurban untuk masyarakat di wilayahnya.Kurban tersebut tidak hanya dimaknai sebagai ibadah personal, tetapi juga sarat pesan penghormatan kepada keluarga besar dan para tokoh desa yang telah mendahului. Seluruh sapi kurban diatasnamakan untuk keluarga besar Heri Nugroho, mulai dari orang tua, nenek, kakek, hingga keluarga dari jalur besan dan mertua.Menurut Heri Nugroho, niat tersebut lahir dari dorongan rasa syukur sekaligus penghormatan atas nilai-nilai kehidupan yang selama ini diwariskan keluarga kepadanya. Ia mengaku banyak menerima didikan, petuah, pitutur, dan teladan yang menjadi bekal dalam menjalani kehidupan pribadi maupun pengabdian di pemerintahan desa.“Semua ini sebagai ungkapan terima kasih dan bentuk bakti kepada orang tua, leluhur, serta keluarga besar yang telah memberikan tuntunan hidup. Apa yang kami lakukan hari ini tidak lepas dari doa dan perjuangan mereka,” ujarnya.Yang menjadi perhatian masyarakat, sebagian hewan kurban juga dipersembahkan atas nama para kepala desa dan perangkat Desa Bergas Kidul yang telah wafat. Nama-nama para tokoh desa terdahulu disebut sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan pengabdian mereka selama memimpin serta membangun desa.Bagi Heri Nugroho, pembangunan desa tidak lahir dari satu generasi semata. Ia menilai kemajuan Desa Bergas Kidul merupakan hasil estafet perjuangan banyak pihak yang pernah mengabdi dengan kemampuan dan zamannya masing-masing.“Kami ingin menghormati perjuangan para pendahulu desa. Mereka telah bekerja, mengabdi, dan memberikan fondasi pembangunan bagi Bergas Kidul. Kurban ini diniatkan sebagai doa sekaligus penghargaan untuk mereka,” katanya.Pelaksanaan penyembelihan dan distribusi daging kurban dilakukan secara bertahap di sejumlah lingkungan desa dengan melibatkan panitia dan warga setempat. Daging kurban kemudian dibagikan kepada masyarakat, termasuk warga kurang mampu dan kelompok yang membutuhkan.Sejumlah warga menyambut baik kegiatan tersebut. Selain dinilai membantu masyarakat, langkah itu juga dianggap membawa pesan moral tentang pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan, menghormati leluhur, serta menghargai jasa para pendahulu desa.Tokoh masyarakat setempat menilai tradisi kurban yang disertai penghormatan kepada para pendahulu menjadi pengingat bahwa pembangunan desa tidak hanya diukur dari fisik dan infrastruktur, melainkan juga dari kuatnya nilai kebersamaan dan penghargaan terhadap sejarah.Iduladha, lanjut warga, menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas sosial dan menumbuhkan kesadaran bahwa keberhasilan seseorang tidak pernah berdiri sendiri. Di balik capaian hari ini, ada jasa orang tua, keluarga, guru kehidupan, serta para tokoh desa yang pernah mengabdi dengan tulus.Melalui kurban tersebut, Heri Nugroho berharap semangat gotong royong, penghormatan kepada orang tua, dan kepedulian sosial tetap tumbuh di tengah masyarakat Desa Bergas Kidul. Ia juga mengajak masyarakat menjadikan Iduladha bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum memperkuat nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan penghormatan kepada jasa para pendahulu.Keterangan foto: Heri Nugroho berkaos biru di dampingi Ketua Panitia Penyembelihan Kurban Hartadi di Masjid Baitul Qudus Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Di tempat ini Heri menyerahkan 3 sapi Limosin.(Red)</description>
					                </item><item>
						                <title>Semangat Kurban Warnai Iduladha Muhammadiyah Bergas</title>
						                <link>https://perwirasatu.co.id/berita/detail/semangat-kurban-warnai-iduladha-muhammadiyah-bergas</link>
						                <description>Perwirasatu.co.id, Semarang — Ratusan jamaah memadati halaman Kantor BRMP Jawa Tengah di sebelah barat SPBU Karangjati, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, dalam pelaksanaan Salat Iduladha 1447 Hijriah, Rabu Wage (27/5/2026) pagi. Sejak sebelum matahari terbit, masyarakat dari berbagai wilayah mulai berdatangan untuk mengikuti ibadah tahunan yang sarat nilai spiritual dan sosial tersebut.Kegiatan yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bergas bersama Lazismu Bergas itu berlangsung tertib dan khusyuk. Salat Iduladha dimulai sekitar pukul 06.45 WIB dengan Drs. H. Jazuli bertindak sebagai imam sekaligus khotib.Dalam khotbahnya, H. Jazuli mengangkat tema “Menjadi Seorang Muslim yang Berkarakter Mukhbitin”. Ia menekankan pentingnya membangun karakter muslim yang rendah hati, taat kepada Allah SWT, sabar menghadapi ujian kehidupan, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.Menurutnya, semangat Iduladha tidak berhenti pada prosesi penyembelihan hewan kurban, tetapi lebih jauh menjadi simbol keikhlasan dan totalitas penghambaan kepada Allah SWT sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.“Pengorbanan tidak selalu berbentuk materi, tetapi juga waktu, tenaga, pikiran, dan keikhlasan dalam membantu sesama,” ungkapnya di hadapan jamaah.Ia juga mengingatkan agar umat Islam tetap menjaga nilai spiritualitas di tengah derasnya perkembangan teknologi dan arus kehidupan modern. Kemajuan zaman, katanya, seharusnya menjadi sarana memperkuat dakwah dan kepedulian sosial, bukan justru menjauhkan manusia dari ibadah.Karakter al-mukhbitin, lanjutnya, memiliki sejumlah ciri utama, di antaranya hati yang bergetar ketika mengingat Allah, istiqamah menjaga salat, sabar menghadapi cobaan, serta gemar berinfak dan berbagi kepada orang lain. Nilai-nilai tersebut dinilai penting untuk membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan penuh empati.Sementara itu, Ketua PCM Bergas Kabupaten Semarang, H. Sugeng Riyadi SH, menyampaikan bahwa antusiasme masyarakat dalam berkurban tahun ini menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Panitia berhasil menghimpun dua ekor sapi dan empat ekor kambing dari para sohibul kurban.Menurutnya, hewan-hewan kurban tersebut nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat yang berhak menerima secara adil dan tepat sasaran. Hal itu diharapkan dapat memperkuat semangat kebersamaan sekaligus membantu warga yang membutuhkan.Selain menjadi momentum ibadah, pelaksanaan Iduladha juga dimanfaatkan warga sebagai sarana mempererat silaturahmi. Seusai salat, jamaah tampak saling bersalaman dan berbincang hangat satu sama lain, menciptakan suasana penuh kekeluargaan dan ukhuwah Islamiyah yang kental.Pelaksanaan Salat Iduladha berlangsung lancar hingga selesai. Semangat pengorbanan, kepedulian sosial, dan kebersamaan yang tercermin dalam kegiatan tersebut diharapkan terus tumbuh dalam kehidupan masyarakat Bergas sehari-hari.(Red)</description>
					                </item><item>
						                <title>Habis Dalam 10 Menit</title>
						                <link>https://perwirasatu.co.id/berita/detail/habis-dalam-10-menit</link>
						                <description>Perwirasatu.co.id, Rabu 27 Mei 2026.Dalam kehidupan kita sering kali terjebak pada kenikmatan yang bersifat sementara, terutama ketika makanan yang enak habis dalam 10 menit membuat kita merasa bahwa dunia ini begitu mempesona dan hakiki. Padahal apa yang tampak di permukaan seringkali menipu dan menjauhkan kita dari tujuan hidup yang sebenarnya. Allah ﷻ mengingatkan kita akan realitas kehidupan dunia ini agar hati kita tidak larut dalam tipu daya yang menyesatkan. يَـٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَـٰنُٓ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحً۬ا فَمُلَـٰقِيهِۚ (سورة العلق: ٨)“Wahai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju kepada Tuhanmu, dan kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-‘Alaq: 8)Ayat ini menggugah hati kita bahwa setiap yang kita lakukan di dunia ini akan menemui perhitungan di hadapan Allah ﷻ. Dunia bukan tempat kita tinggal selamanya, tetapi tempat menanam bekal untuk akhirat. Allah ﷻ mengingatkan pula dalam firman-Nya:وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا إِلَّا لَعِبٞ وَلَهۡوٞۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ‌ۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahami?” (QS. Al-Ankabut: 64)Begitu jelas Allah mengingatkan bahwa apa yang kita anggap besar dan penting dalam dunia ini jika dilihat dari kaca mata akhirat hanyalah permainan. Makanan enak yang habis dalam hitungan menit merupakan nikmat kecil yang fana, sedangkan amal yang kita lakukan menjadi bekal abadi. Nabi ﷺ bersabda:عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»“Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang terus menerus meskipun sedikit.’” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas amalan kita lebih berharga daripada sekadar kenikmatan sesaat di dunia. Makanan yang enak dan cepat hilang tidak akan memberikan nilai abadi, tetapi amal baik yang dilakukan konsisten akan mengangkat derajat kita di akhirat. Ketika kita makan, hendaknya kita ingat untuk mensyukuri nikmat Allah dengan doa:ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum serta menjadikan kami termasuk orang-orang yang berserah diri (Muslim).”Dengan begitu, kita tidak hanya memuaskan selera tetapi juga menumbuhkan rasa syukur dan kesadaran bahwa semua nikmat berasal dari Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:فَاذْكُرُونِى أَذْكُرْكُمْ“Maka ingatlah akan Aku, niscaya Aku ingat akan kamu.” (QS. Al-Baqarah: 152)Ingatan kepada Allah adalah inti dari kehidupan penuh kesadaran. Ketika kita ingat kepada Allah dalam setiap suapan makanan, dalam setiap doa dan ikhtiar, kita sejatinya sedang menanam cahaya iman yang akan menerangi perjalanan kita setelah mati. Dunia boleh jadi menggoda, tetapi akhirat adalah realitas yang kekal.Sahabat yang dirahmati Allah, mari kita lihat makanan yang habis dalam 10 menit sebagai peringatan hidup: bahwa segala sesuatu yang fana tidak layak dijadikan tujuan utama. Allah ﷻ memberi kita ujian berupa kenikmatan dunia agar kita memilih antara mengikuti hawa nafsu atau menyiapkan bekal amal shalih. Firman Allah:وَٱعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُواْ“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali ‘Imran: 103)Berpegang teguh pada kebenaran, memperbanyak doa dan amalan, serta menjauhi godaan syaitan akan menuntun kita kepada keridhaan Allah ﷻ. Ketahuilah bahwa setiap detik hidup ini adalah investasi akhirat. Nikmat sekecil apapun jika disyukuri dan diwujudkan dalam kebaikan akan menjadi cahaya di kubur dan pemberat timbangan kebaikan kita. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-Nya yang senantiasa bersyukur, konsisten dalam amalan, dan menjadikan setiap momen hidup sebagai bekal menuju kebahagiaan abadi di akhirat. آمين.Sumber: Dwi Taufan Hidayat</description>
					                </item><item>
						                <title>Muhammadiyah Kabupaten Semarang Siapkan Idul Adha</title>
						                <link>https://perwirasatu.co.id/berita/detail/muhammadiyah-kabupaten-semarang-siapkan-idul-adha</link>
						                <description>Perwirasatu.co.id, Semarang - Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Semarang memastikan pelaksanaan Shalat Idul Adha 1447 Hijriah berlangsung serentak di berbagai wilayah pada Rabu, 27 Mei 2026. Sedikitnya puluhan titik pelaksanaan telah disiapkan oleh masing masing Pimpinan Cabang Muhammadiyah dengan melibatkan imam dan khotib dari unsur ulama, akademisi, hingga tokoh persyarikatan. Persiapan dilakukan untuk menjamin ibadah berjalan tertib, khusyuk, aman, dan mampu menjangkau jamaah lebih luas di seluruh Kabupaten Semarang.Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Semarang kembali menunjukkan kesiapan organisatorisnya dalam menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Melalui koordinasi bersama seluruh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), pelaksanaan Shalat Idul Adha dijadwalkan berlangsung serentak pada Rabu, 27 Mei 2026 atau bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah.Pelaksanaan ibadah tidak hanya dipusatkan di satu lokasi, melainkan tersebar di berbagai kecamatan dan desa di wilayah Kabupaten Semarang. Langkah ini dilakukan agar masyarakat dapat lebih mudah mengakses lokasi shalat sekaligus mengurangi kepadatan jamaah pada satu titik tertentu.Di wilayah Ungaran, Muhammadiyah menyiapkan dua lokasi utama, yakni di Alun Alun Bung Karno Kalirejo dan Masjid Mujahidin Ungaran. Sementara PCM Ambarawa akan menggelar shalat di Lapangan Pangsar Jenderal Sudirman Turonggo Ceto. Adapun PCM Banyubiru memilih Halaman Kantor Kecamatan Banyubiru sebagai lokasi utama pelaksanaan.Sejumlah lokasi terbuka juga dipilih demi menampung jumlah jamaah yang diperkirakan meningkat dibanding tahun sebelumnya. PCM Bergas misalnya akan menggelar shalat di Halaman BPSIP, sedangkan PCM Susukan memusatkan pelaksanaan di Alun Alun Susukan serta beberapa titik lain seperti Halaman SMK Muhammadiyah Susukan dan Halaman Masjid Dusun Bulu.Di kawasan Suruh, pelaksanaan Shalat Idul Adha akan tersebar di Lapangan Reksosari, Halaman MI Muhammadiyah, hingga Lapangan Njengglong. Sementara PCM Tuntang menyiapkan beberapa lokasi strategis seperti Halaman SD Candirejo, Panti Asuhan Muhammadiyah Putra Tuntang, dan Masjid Funaidah Al Musytahar Jeblosan.Tidak hanya menyiapkan lokasi, Muhammadiyah Kabupaten Semarang juga menghadirkan imam dan khotib yang dinilai memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman dakwah yang kuat. Nama nama seperti Ustaz Sya’ban Maghruf, Ustaz Ahmad Kamal Al Bugizy, Ustaz Muhamad Septiana Utama, hingga Ustaz H. Amin Rois dijadwalkan memimpin pelaksanaan shalat dan menyampaikan khutbah Idul Adha.Keterlibatan para mubaligh dari berbagai latar belakang menunjukkan keseriusan Muhammadiyah dalam menghadirkan suasana Idul Adha yang bukan hanya khidmat secara ritual, tetapi juga mencerahkan secara spiritual dan sosial. Khutbah Idul Adha diperkirakan akan banyak menyoroti nilai pengorbanan, kepedulian sosial, penguatan ukhuwah, serta pentingnya keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam kehidupan masyarakat modern.Muhammadiyah juga mengajak masyarakat untuk menjadikan momentum Idul Adha sebagai ruang memperkuat solidaritas sosial di tengah berbagai tantangan kehidupan saat ini. Semangat berkurban tidak hanya dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan, tetapi juga sebagai pendidikan keikhlasan, kepedulian terhadap sesama, serta keberanian menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi.Di sisi lain, penyebaran titik pelaksanaan shalat juga memperlihatkan kuatnya basis gerakan Muhammadiyah hingga tingkat cabang dan ranting. Setiap PCM diberi ruang untuk mengelola pelaksanaan secara mandiri dengan tetap berada dalam koordinasi PDM Kabupaten Semarang. Model seperti ini dinilai menjadi kekuatan Muhammadiyah dalam membangun gerakan dakwah yang terorganisir sekaligus dekat dengan masyarakat akar rumput.Persiapan teknis pun mulai dimatangkan jauh hari sebelum pelaksanaan. Panitia di masing masing lokasi dijadwalkan melakukan pembersihan area, pengaturan saf jamaah, penyediaan pengeras suara, hingga pengondisian lalu lintas sekitar lokasi. Jamaah juga diimbau datang lebih awal agar pelaksanaan ibadah berjalan tertib dan nyaman.Momentum Idul Adha tahun ini diperkirakan kembali menjadi ruang perjumpaan sosial masyarakat setelah aktivitas keagamaan semakin hidup dalam beberapa tahun terakhir. Selain pelaksanaan shalat, sejumlah PCM juga telah menyiapkan agenda penyembelihan dan distribusi hewan kurban kepada masyarakat yang membutuhkan.Bagi Muhammadiyah, Idul Adha bukan sekadar agenda tahunan. Lebih dari itu, hari raya ini menjadi pengingat bahwa nilai keimanan harus melahirkan keberpihakan sosial. Dari lapangan lapangan tempat jamaah bersujud, semangat pengorbanan diharapkan tumbuh menjadi energi kolektif untuk membangun masyarakat yang berkemajuan, berkeadaban, dan saling menguatkan.(Red)</description>
					                </item><item>
						                <title>Kasus Dugaan Pengeroyokan di Tarogong Kaler Dilaporkan ke Polisi, Korban Siap Tempuh Restorative Justice</title>
						                <link>https://perwirasatu.co.id/berita/detail/kasus-dugaan-pengeroyokan-di-tarogong-kaler-dilaporkan-ke-polisi-korban-siap-tempuh-restorative-justice</link>
						                <description>Perwirasatu.co.id, ‎Garut – Seorang warga Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, melaporkan dugaan insiden pengeroyokan ke Unit Reskrim Polsek Tarogong Kaler, Selasa (26/5/2026) malam.‎Berdasarkan Surat Tanda Penerimaan Laporan Pengaduan yang diterima awak media, pelapor diketahui bernama Reza Rahadian Banani bin Yadi Suparna (33), warga Kampung Bojong RT 11 RW 05, Desa Tanjung Anom, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut.‎Dalam laporan tersebut, korban mengaku mengalami peristiwa dugaan pengeroyokan yang terjadi pada Senin (26/5/2026) sekitar pukul 18.00 WIB di sebuah konter Three Cell 2 yang berlokasi di Jalan Raya Cipanas No. 60, Kelurahan Cimananten, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut.‎Korban menyebut peristiwa tersebut dilakukan oleh beberapa orang secara bersama-sama. Akibat kejadian itu, korban mengalami luka memar dan lecet di sejumlah bagian tubuh, di antaranya belakang telinga, kepala, pinggang, serta tangan.‎Laporan tersebut diterima oleh Unit Reskrim Polsek Tarogong Kaler dan saat ini masih dalam proses penanganan lebih lanjut.‎Meski demikian, pihak korban dikabarkan masih membuka ruang penyelesaian secara kekeluargaan. Korban menyatakan bersedia menempuh jalur mediasi maupun restorative justice apabila terdapat itikad baik dari pihak terlapor untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara damai sesuai ketentuan hukum yang berlaku.‎Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman serta pengumpulan keterangan terkait peristiwa tersebut.‎(Tim)</description>
					                </item></channel>
  	</rss>