Dolar Mengguncang Dapur Desa
Perwirasatu.co.id, Sabtu 23 Mei 2026.
Pagi itu aroma fermentasi kedelai masih memenuhi gang gang sempit Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas. Di antara kepulan uap tungku dan tumpukan cetakan kayu, para perajin tempe mulai menghitung ulang biaya produksi mereka. Harga kedelai impor kembali naik setelah nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah. Bagi masyarakat desa, gejolak kurs bukan lagi berita jauh dari layar televisi atau laporan ekonomi nasional. Dampaknya kini terasa langsung sampai ke dapur produksi tempe rakyat.
Sejumlah media memberitakan keluhan perajin tempe Banyumas akibat naiknya harga kedelai impor yang dipengaruhi penguatan dollar AS. Media DetikJateng dalam artikel “Perajin Tempe Banyumas Sambat Harga Kedelai Impor Naik Pengaruh Dolar Naik” yang terbit pada 20 Mei 2026 melaporkan bahwa kenaikan harga kedelai membuat biaya produksi perajin tempe semakin berat. Kondisi serupa juga diberitakan Pikiran Rakyat Jateng melalui artikel “Dollar AS Menguat Harga Kedelai Meroket dan Produsen Tempe Banyumas Terancam Rugi” pada 20 Mei 2026.
Perajin tempe di desa mungkin tidak pernah memegang dollar AS dalam transaksi sehari hari. Namun mereka membeli kedelai impor yang harganya sangat dipengaruhi kurs mata uang Amerika Serikat. Ketika rupiah melemah, importir menaikkan harga bahan baku. Distributor menyesuaikan harga jual. Pada akhirnya beban itu jatuh kepada pengusaha kecil di desa desa yang memiliki modal terbatas.
Kondisi tersebut mematahkan anggapan bahwa masyarakat desa tidak terhubung dengan gejolak ekonomi global. Dalam sistem ekonomi modern, desa dan kota telah terhubung dalam rantai distribusi yang sama. Petani membeli pupuk yang dipengaruhi harga internasional. Nelayan bergantung pada harga energi dunia. Perajin tempe membeli kedelai impor yang nilainya mengikuti pergerakan dollar AS.
Di Desa Pliken, kenaikan harga kedelai bukan sekadar angka statistik. Para perajin harus memilih pilihan sulit. Sebagian mengurangi ukuran tempe agar harga jual tidak naik terlalu tinggi. Sebagian lain menaikkan harga dengan risiko kehilangan pelanggan. Ada pula yang menurunkan kualitas produksi demi menekan biaya. Semua pilihan itu sama sama berat bagi usaha kecil yang hidup dari keuntungan tipis.
Persoalan ini juga menunjukkan rapuhnya ketahanan pangan nasional yang masih bergantung pada impor kedelai. Artikel Kompas.com berjudul “Tahu Tempe di Bawah Tekanan Rupiah” yang terbit pada 22 Januari 2026 menjelaskan bahwa lebih dari 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi dari impor. Ketika nilai tukar rupiah melemah, harga bahan baku pangan ikut terdorong naik dan memberi tekanan besar kepada pelaku usaha kecil.
Data tersebut memperlihatkan bahwa masalah utama bukan hanya soal kurs dollar, tetapi juga ketergantungan Indonesia terhadap pasokan pangan luar negeri. Selama produksi kedelai lokal belum mampu memenuhi kebutuhan nasional, para perajin tempe akan terus berada dalam posisi rentan terhadap gejolak ekonomi global.
Yang menarik, para perajin tempe di Banyumas menunjukkan kesadaran ekonomi yang cukup tinggi. Mereka memahami bahwa kenaikan harga kedelai berkaitan langsung dengan kurs dollar dan kebijakan impor nasional. Kesadaran seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat kecil sebenarnya mampu membaca persoalan ekonomi berdasarkan pengalaman hidup sehari hari, bukan sekadar teori.
Situasi tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi serius bagi pemerintah. Usaha pangan rakyat seperti produksi tempe memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat luas. Stabilitas harga kedelai, dukungan terhadap produksi lokal, dan perlindungan bagi usaha kecil menjadi langkah penting agar gejolak kurs tidak selalu berubah menjadi beban berat bagi rakyat kecil.
Kasus di Banyumas juga memperlihatkan pentingnya empati dalam komunikasi publik. Ketika masyarakat sedang menghadapi kenaikan biaya hidup, pernyataan yang terkesan meremehkan dampak dollar terhadap desa dapat menimbulkan kekecewaan. Masyarakat tidak hanya membutuhkan penjelasan ekonomi, tetapi juga pengakuan bahwa kesulitan mereka benar benar nyata.
Desa hari ini bukan lagi wilayah yang terpisah dari ekonomi global. Dari harga pupuk hingga bahan baku pangan, kehidupan masyarakat desa ikut dipengaruhi dinamika perdagangan internasional. Bedanya, masyarakat kecil sering kali menghadapi dampak itu tanpa perlindungan ekonomi yang memadai.
Pada akhirnya, kisah perajin tempe di Banyumas memperlihatkan bahwa gejolak ekonomi global tidak berhenti di ruang rapat atau pasar keuangan. Dampaknya masuk sampai ke dapur dapur desa. Dari ukuran tempe yang mengecil hingga keuntungan yang semakin menipis, semuanya menjadi bukti bahwa rakyat kecil sering berada di garis depan ketika ekonomi bergejolak.
Karena itu, memandang desa sebagai wilayah yang kebal terhadap naik turunnya dollar AS merupakan kekeliruan besar. Justru di desa dampak paling nyata sering terlihat. Rakyat kecil harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan penghasilan yang terus tertekan. Ketika suara mereka mulai terdengar, negara seharusnya mendengarkan dengan lebih jernih dan lebih dekat dengan kenyataan hidup masyarakat bawah.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar