Harga Berbeda Dalam Asap Kurban

Harga Berbeda Dalam Asap Kurban

Perwirasatu.co.id, Kamis 27 Mei 2026.

Setiap Iduladha datang, halaman rumah, gang kecil, hingga dapur-dapur sederhana berubah menjadi ruang perjumpaan. Aroma sate mengepul dari bara arang, suara ulekan bumbu bersahutan dengan tawa warga, dan di sudut-sudut kota muncul berbagai penawaran jasa masak daging kurban dengan harga yang berbeda-beda. Dari enam puluh ribu rupiah per kilogram hingga ratusan ribu, semuanya menghadirkan cerita tentang kebutuhan, penghidupan, dan perubahan cara masyarakat memaknai hari raya.

Di sebuah unggahan sederhana berlatar abu kebiruan, tertulis kalimat singkat yang terasa begitu biasa namun menyimpan banyak makna. “Pondok Makan Sate Kambing Lani melayani jasa masak daging. 60rb/kg. Lok. Ambarawa.” Tidak ada desain mewah, tidak ada foto sate yang menggoda, bahkan tidak ada nomor telepon besar yang berkedip-kedip seperti iklan digital masa kini. Hanya tulisan putih polos, namun justru dari kesederhanaan itu tampak sebuah kenyataan tentang bagaimana Iduladha telah melahirkan ekonomi musiman yang hidup dari kebutuhan masyarakat.

Beberapa tahun lalu, memasak daging kurban hampir selalu dilakukan sendiri. Sejak pagi selepas salat Id, para ibu sibuk mengiris bawang, para bapak meniup bara arang, sementara anak-anak mondar-mandir membawa tusukan sate. Aroma bumbu kacang menjadi penanda rumah-rumah yang sedang berpesta sederhana. Tidak ada istilah jasa masak kiloan. Semua dikerjakan bersama-sama sebagai bagian dari kebersamaan yang melekat pada tradisi.

Namun waktu mengubah banyak hal.

Kota-kota tumbuh semakin cepat. Orang-orang bekerja lebih panjang, pulang lebih malam, dan semakin sedikit memiliki waktu untuk mengolah daging kurban sendiri. Sebagian tidak lagi percaya diri memasak gulai atau tongseng dalam jumlah besar. Sebagian lain tinggal di perumahan sempit yang bahkan tak memungkinkan menyalakan arang. Maka muncullah jasa-jasa masak dadakan yang menawarkan solusi praktis.

Menariknya, setiap daerah memiliki harga dan cara promosi yang berbeda.

Di Ambarawa, ada yang menawarkan jasa masak enam puluh ribu rupiah per kilogram. Di tempat lain, sebuah catering memasang tarif seratus dua puluh lima ribu rupiah per kilogram dengan janji rendang premium, bakso, hingga printilan daging. Ada yang memberi bonus sambal dan acar. Ada yang menawarkan sistem antar jemput daging. Bahkan beberapa membuka layanan masak di tempat untuk acara keluarga besar atau panitia masjid.

Perbedaan harga itu sering menjadi bahan obrolan warga.

“Lho, kok di sini mahal banget?” tanya seseorang di grup WhatsApp keluarga.

“Kalau yang murah biasanya belum termasuk bumbu,” jawab yang lain.

“Ada yang bisa jadi bakso sekalian, lebih praktis,” sahut anggota grup berikutnya.

Percakapan-percakapan kecil semacam itu sebenarnya bukan sekadar soal harga. Ia menggambarkan perubahan gaya hidup masyarakat. Dulu orang rela menghabiskan satu hari penuh untuk memasak bersama. Kini banyak yang lebih memilih membayar agar bisa langsung menikmati hasil jadi sambil melanjutkan silaturahmi.

Di balik jasa masak itu, ada pula kisah orang-orang yang menggantungkan harapan pada momen Iduladha.

Warung sate kecil yang biasanya sepi mendadak ramai pesanan. Tukang giling bakso menerima antrean sejak pagi. Penjual santan dan bumbu pasar kebanjiran pembeli. Bahkan pemilik katering rumahan bisa mendapat pemasukan berkali lipat dibanding hari biasa. Hari raya bukan hanya tentang pembagian daging, melainkan juga perputaran rezeki bagi banyak orang kecil.

Lani, pemilik pondok makan sate di Ambarawa itu, mungkin hanya memasang tulisan sederhana karena tak punya biaya membuat iklan profesional. Tetapi dari enam puluh ribu rupiah per kilogram itulah mungkin ia membayar kebutuhan sekolah anak, membeli gas tambahan, atau menutup biaya dapur yang terus naik. Di balik angka yang tampak kecil, ada tenaga, waktu, dan pengalaman yang ikut diperjualbelikan.

Memasak daging kurban ternyata bukan pekerjaan ringan.

Daging kambing harus diolah hati-hati agar tidak bau prengus. Daging sapi perlu direbus lama supaya empuk. Belum lagi mengatur bumbu dalam jumlah besar agar rasanya tetap seimbang. Orang yang terbiasa memasak untuk keluarga kecil tentu akan kewalahan ketika harus mengolah lima atau sepuluh kilogram daging sekaligus.

Karena itu jasa masak hadir sebagai jawaban atas kebutuhan zaman.

Meski demikian, ada sebagian orang yang merasa ada sesuatu yang perlahan hilang. Ketika semua bisa dipesan dan dibayar, tradisi memasak bersama mulai berkurang. Anak-anak tak lagi melihat ayahnya membakar sate di halaman. Tetangga tak lagi saling meminjam cobek atau panci besar. Dapur yang dulu penuh cerita berubah menjadi ruang singgah sebentar sebelum makanan datang dalam kemasan rapi.

Modernitas memang memberi kemudahan, tetapi sering diam-diam mengambil kehangatan kecil yang dulu terasa biasa.

Di banyak kampung, memasak daging kurban sebenarnya lebih dari sekadar urusan makanan. Ia adalah alasan untuk berkumpul. Orang-orang yang jarang bertemu bisa duduk bersama sambil menunggu sate matang. Para ibu bertukar resep gulai sambil tertawa. Anak-anak berebut bagian hati atau kikil. Bahkan asap pembakaran sate yang menyesakkan mata sering justru menjadi bagian paling dirindukan ketika semua kenangan itu berlalu.

Kini, sebagian suasana itu digantikan oleh pesan singkat.

“Mas, rendang dua kilo ya.”

“Siap, nanti sore diantar.”

Praktis, cepat, dan efisien.

Tetapi kehidupan memang selalu bergerak ke arah yang sulit ditolak.

Jasa masak daging kurban akhirnya menjadi cermin kecil tentang masyarakat hari ini. Ada kebutuhan akan kepraktisan, ada peluang ekonomi, ada kreativitas bertahan hidup, sekaligus ada tradisi yang perlahan berubah bentuk. Semua bercampur seperti bumbu gulai yang mendidih dalam panci besar.

Perbedaan harga antar daerah pun sebenarnya wajar. Biaya bumbu berbeda, ongkos tenaga berbeda, juga kemampuan pasar yang tidak sama. Di kota besar, orang rela membayar mahal demi kenyamanan. Di kota kecil, harga murah justru menjadi daya tarik utama agar pelanggan datang. Tidak ada yang benar atau salah. Semua berjalan mengikuti ritme kehidupan masing-masing.

Yang menarik, hampir semua penawaran jasa masak itu memakai bahasa yang akrab dan dekat dengan masyarakat. Tidak kaku seperti iklan perusahaan besar. Ada emoji tangan hati, ada kata “mantap”, ada janji “slot terbatas”, ada pula kalimat “biar nggak ribet di dapur.” Bahasa sederhana itu membuat promosi terasa lebih manusiawi, seolah bukan sekadar transaksi, melainkan ajakan saling membantu saat hari raya.

Mungkin itulah yang membuat usaha-usaha kecil semacam ini tetap bertahan.

Di tengah aplikasi makanan modern dan promosi digital besar-besaran, orang masih percaya pada warung sate pinggir jalan, katering rumahan, dan jasa masak yang diumumkan lewat status WhatsApp. Ada rasa percaya yang tumbuh karena kedekatan sosial. Pembeli tahu siapa yang memasak. Penjual mengenal siapa yang memesan.

Dan ketika malam Iduladha tiba, asap sate kembali naik ke langit kampung-kampung kecil. Sebagian berasal dari dapur rumah sendiri, sebagian lagi dari jasa masak yang bekerja tanpa henti sejak pagi. Semua aroma itu akhirnya menyatu menjadi satu hal yang sama: rasa syukur.

Sebab pada akhirnya, Iduladha bukan hanya tentang daging yang dibagikan atau makanan yang dihidangkan. Ia adalah cerita tentang manusia-manusia yang saling menghidupi. Tentang mereka yang berbagi kurban, mereka yang mengolahnya, dan mereka yang menemukan rezeki dari kepulan asap yang hanya datang setahun sekali.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)