Pintu Yang Dikunci Pada Hari RayaCerpen

Pintu Yang Dikunci Pada Hari Raya

Perwirasatu.co.id, Sabtu 6 Juni 2026.

Pagi itu takbir mengalun dari segala arah, memantul di dinding rumah dan menyusup melalui celah jendela kamarku. Sejak subuh aku sudah bersiap seperti tahun tahun sebelumnya. Gamis berwarna krem yang biasa kupakai saat Lebaran tergantung rapi di tubuhku, sementara mukena putih terlipat di atas ranjang. Dari depan cermin, aku mencoba tersenyum kepada bayanganku sendiri, tetapi senyum itu terasa seperti milik orang lain.

Sudah sebulan aku tidak tinggal serumah dengan suamiku. Kepada tetangga dan kerabat yang bertanya, aku selalu menjawab bahwa kami sedang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Kalimat itu terdengar sederhana, namun setiap kali mengucapkannya, ada sesuatu yang terasa patah di dalam dada. Aku sendiri tidak yakin apakah yang sedang kami jalani benar benar hanya jeda atau awal dari sebuah kehilangan yang lebih besar.

Saat hendak membuka pintu kamar, terdengar suara langkah di lorong. Kakakku berdiri di sana dengan wajah yang tampak lelah seolah semalaman tidak tidur. Di tangannya ada telepon genggam yang segera ia masukkan ke saku ketika melihatku. Gerakannya cepat, tetapi cukup untuk membuatku menangkap kegelisahan yang selama beberapa hari terakhir sering muncul di matanya.

"Apa aku kelihatan aneh?" tanyaku mencoba bercanda.

Ia tersenyum tipis, lalu menggeleng. Namun senyum itu tidak pernah sampai ke matanya. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tetapi tertahan di ujung lidah.

"Kamu yakin mau ikut salat Id?" tanyanya pelan.

Aku mengernyit. "Memangnya kenapa?"

Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya menarik napas panjang. "Kalau keluarga besar bertanya soal suamimu, kamu siap jawab apa?"

Pertanyaan itu sederhana, tetapi terasa seperti batu yang dilemparkan tepat ke dadaku. Aku membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Selama sebulan terakhir aku memikirkan banyak kemungkinan jawaban, tetapi tidak satu pun yang terdengar benar. Pada akhirnya aku hanya menunduk.

"Kamu boleh tetap berangkat kalau memang siap," lanjutnya. "Tapi kalau belum, mungkin lebih baik di rumah dulu."

Aku memandang wajahnya. Untuk sesaat aku merasa ia sedang menyembunyikan sesuatu. Namun sebelum sempat bertanya lebih jauh, suara ibuku terdengar dari ruang tengah.

Ketika aku keluar kamar, kulihat ibu sedang melipat sajadah dengan mata yang sembap. Begitu melihatku, ia segera memalingkan wajah. Gerakan itu terlalu cepat untuk disebut kebetulan. Ada bekas tangis yang belum sempat hilang dari kedua matanya.

"Ibu kenapa?" tanyaku.

Ia tersenyum, tetapi senyum itu rapuh. "Tidak apa apa."

Aku tahu itu bohong.

Beberapa hari terakhir ibu sering menangis diam diam. Kadang aku mendengar isaknya dari dapur ketika mengira tidak ada yang memperhatikan. Kadang aku memergokinya menatap kosong ke halaman belakang dengan mata berkaca kaca. Setiap kali kutanya, jawabannya selalu sama.

Tidak apa apa.

Pagi itu akhirnya ia tidak mampu lagi menyembunyikannya.

"Aku tidak pernah membayangkan anakku harus mengalami semua ini," katanya lirih.

Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi. Ayah yang sejak tadi mengenakan peci menghentikan gerakannya. Kakakku menundukkan kepala. Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Aku ingin mengatakan bahwa aku baik baik saja.

Aku ingin meyakinkan mereka bahwa aku kuat.

Namun bahkan diriku sendiri tidak mempercayai kalimat itu.

Akhirnya aku memutuskan tidak ikut salat Id. Setelah keluarga berangkat, aku kembali ke kamar dan duduk di depan jendela. Dari sana aku bisa melihat jalanan yang dipenuhi orang orang dengan pakaian terbaik mereka. Anak anak berlarian sambil tertawa. Sesekali terdengar suara petasan dari kejauhan.

Semua tampak bahagia.

Aku merasa seperti satu satunya orang yang tertinggal di belakang.

Di atas meja terdapat bingkai foto pernikahanku. Dalam foto itu aku dan suamiku tersenyum lebar di pelaminan. Dulu aku percaya senyum itu adalah awal dari hidup yang panjang dan indah. Kini aku memandanginya seperti sedang melihat kisah milik orang lain.

Pikiranku kembali pada malam terakhir sebelum ia pergi. Saat itu ia mengatakan bahwa ia sedang lelah dan membutuhkan waktu sendiri. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada suara yang meninggi. Hanya jarak yang perlahan tumbuh seperti retakan halus pada kaca.

Retakan itu membesar setiap hari.

Dan aku tidak pernah benar benar mengerti penyebabnya.

Menjelang siang, keluargaku pulang dari salat Id. Pintu rumah dikunci dari dalam seperti tradisi yang selalu kami lakukan sebelum saling bermaafan. Aku keluar kamar dengan langkah pelan. Udara di ruang tamu terasa berat meski tidak ada satu pun yang mengucapkan kata kata menyakitkan.

Sebelum sempat mencium tangan ayah, ia sudah lebih dulu memelukku.

Pelukan itu begitu erat hingga aku hampir tidak bisa bernapas.

"Ayah minta maaf," bisiknya.

Aku terdiam.

Selama hidupku, ayah jarang meminta maaf bahkan ketika ia merasa bersalah. Namun pagi itu suaranya bergetar. Ketika aku mengangkat wajah, kulihat matanya basah.

"Ayah..." suaraku tercekat.

Ia tidak menjawab. Hanya menepuk punggungku perlahan seperti saat aku masih kecil.

Setelah itu ibu memelukku. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Kakakku mencium keningku berkali kali. Sementara istrinya menggenggam tanganku erat.

"Kamu berharga," katanya. "Jangan pernah merasa kecil karena kesalahan orang lain."

Kalimat itu tinggal di kepalaku bahkan setelah semua kembali duduk.

Tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu. Keluarga besar mulai berdatangan. Aku diminta masuk ke kamar agar tidak perlu menghadapi pertanyaan yang mungkin melukai. Dari balik pintu, aku mendengar suara tawa, salam, dan percakapan hangat yang terdengar begitu normal.

Aku iri pada kenormalan itu.

Satu jam berlalu.

Aku duduk bersandar di lantai dengan punggung menempel pada ranjang. Tangis yang sejak pagi tertahan akhirnya pecah. Aku menangis sampai napasku tersengal. Menangis untuk pernikahan yang perlahan runtuh. Menangis untuk diriku sendiri. Menangis untuk keluarga yang ikut menanggung luka yang tidak mereka ciptakan.

Di tengah tangis itu, telepon genggamku bergetar.

Nama suamiku muncul di layar.

Jantungku langsung berdebar.

Dengan tangan gemetar, aku menerima panggilan tersebut.

Namun suara yang terdengar bukan suara suamiku.

"Maaf mengganggu di hari Lebaran." Suara perempuan.

Asing.

Pelan.

Gemetar.

Aku tidak mengenalnya.

Perempuan itu memperkenalkan dirinya sebagai rekan kerja suamiku. Ia meminta maaf berkali kali sebelum melanjutkan pembicaraan. Ada keraguan dalam setiap kata yang diucapkannya.

"Aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi," katanya. "Tapi menurutku Ibu berhak tahu."

Lalu ia mengirimkan beberapa foto.

Aku membuka satu per satu.

Darahku terasa berhenti mengalir.

Dalam foto pertama, suamiku berdiri di depan sebuah rumah bersama seorang perempuan muda. Dalam foto berikutnya, perempuan itu tampak sedang hamil besar. Pada foto yang lain, mereka terlihat berbelanja perlengkapan bayi sambil tertawa.

Tanganku mulai dingin.

Aku terus menggulir layar.

Ada dokumen.

Ada tanggal.

Ada nama.

Lalu dunia yang selama ini kupijak terasa runtuh dalam sekejap.

Perempuan itu ternyata bukan sekadar orang lain.

Ia telah menikah secara siri dengan suamiku hampir dua tahun lalu.

Dua tahun.

Artinya ketika aku masih tersenyum di sampingnya setiap malam, kebohongan itu sudah hidup di antara kami. Ketika aku merayakan ulang tahun pernikahan, kebohongan itu masih ada. Ketika aku berdoa untuk rumah tangga kami, kebohongan itu tetap tumbuh diam diam.

Aku tidak menangis.

Aku bahkan tidak mampu bergerak.

Ketukan pelan terdengar di pintu kamar.

Ayah masuk setelah kuberi izin.

Ia langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres dari wajahku.

Tanpa berkata apa apa, aku menyerahkan telepon genggam itu kepadanya.

Ayah membaca semuanya.

Lama.

Sangat lama.

Lalu ia duduk di sampingku.

"Ayah sudah tahu," katanya akhirnya.

Aku menoleh cepat.

"Apa?"

"Ayah sudah tahu tentang perempuan itu."

Rasanya seperti mendengar petir meledak tepat di telingaku.

Ayah menunduk.

Tiga bulan sebelumnya, seorang kenalan tanpa sengaja melihat suamiku bersama perempuan tersebut. Sejak saat itu ayah dan kakakku diam diam mencari tahu kebenarannya. Mereka mengumpulkan bukti sedikit demi sedikit karena tidak ingin menghancurkanku dengan dugaan yang belum pasti.

"Kenapa Ayah tidak bilang?" tanyaku dengan suara bergetar.

Karena itu adalah pertanyaan yang terus menghantam kepalaku.

Ayah mengusap wajahnya.

"Karena Ayah berharap semuanya tidak benar."

Ruangan kembali sunyi.

Untuk pertama kalinya aku memahami alasan tangis ibu, kegelisahan kakak, dan pelukan panjang ayah pagi itu.

Mereka bukan sedang menyembunyikan rasa malu.

Mereka sedang menanggung luka yang sama denganku.

Lalu ayah mengatakan sesuatu yang membuat seluruh potongan kejadian pagi itu akhirnya menyatu.

"Kakakmu melarangmu pergi ke masjid bukan karena takut keluarga besar bertanya."

Aku menatapnya.

"Ada apa?"

Ayah memejamkan mata sesaat sebelum menjawab.

"Tadi pagi suamimu datang ke masjid."

Dadaku menegang.

"Tidak sendirian."

Aku menggenggam ujung bajuku erat erat.

Ayah menelan ludah.

"Dia datang bersama perempuan itu."

Aku terpaku.

Tiba tiba aku mengerti mengapa kakakku tampak seperti menahan amarah sejak subuh. Aku mengerti mengapa telepon genggamnya buru buru disembunyikan ketika melihatku. Aku mengerti mengapa ibu menangis sebelum berangkat salat Id.

Dan untuk pertama kalinya sejak sebulan terakhir, aku sadar bahwa pagi itu bukan aku yang sedang diselamatkan. Melainkan seluruh keluargaku.

Karena jika aku melihat mereka berdua berjalan bersama di halaman masjid pagi itu, bukan hanya rumah tanggaku yang akan hancur. Hari Raya keluargaku juga akan ikut runtuh bersamanya.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)